Rumah Tradisional Bali

Masyarakat Bali, khususnya pemeluk agama Hindu adalah masyarakat yang unik. Semakin unik perilaku itu bila teropong lebih diarahkan pada sikap manusia Bali di era kini. Seolah biasa, seorang gadis Bali menari dengan gemulai dan nanti di Banjar atau Pura, bahkan di sebuah hotel, padahal sore sebelumnya dia bekerja sebagai pekerja biasa misalnya pedagang atau melakoni pekerjaan lainnya.

Perilaku seperti itu tampak seperti sosok yang memiliki dua kepribadian namun sebenarnya penduduk Bali lebih memandang hal itu sebagai lakon dalam menjalani keseharian, sebagai usaha dalam membangun karma. Karenanya amat mungkin seorang wanita pedagang yang “tak berarti” di tengah kerumunan pasar, sesaat kemudian akan menjadi pusat perhatian sebagai penari Rejang saat persembahan dalam suatu upacara di pura.

Bila ditelusuri perilaku demikian amat mungkin terjadi karena tatanan atau struktur masyarakat Hindu Bali. Tidak hanya pola pelapisan masyarakat warisan Majapahit saja yang dianut secara penuh namun adapt istiadat setempat pun memberi warna pada penataan masyarakat Bali. Inilah yang menyebabkan sering ditemukan tatanan yang berbeda dari satu desa dengan desa yang lainnya namun memiliki keterikatan sama dalam satu model tatanan Desa Adat.

Manusia , Arsitektur dan Alam Semesta

bali-house
Manusia Bali dan alam semesta adalah suatu hal yang tidak dapat
dipisahkan, begitu pula dengan arsitekturnya. Manusia Bali tradisional tinggal
di sebuah perkampungan yang ditata dengan pola-pola tertentu mengikuti
kaidah-kaidah tertentu yang mengacu pada alam semesta, yaitu kaidah arah
angin Kaja – Kelod, Kauh – Kangin. Dan kaidah sumbu Utama Gunung Agung
yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan leluhur suci
mereka.Masyarakat Bali sangat percaya bahwa dirinya hidup di dunia
membawa misi hidup untuk membuat kebaikan di muka bumi dan bila
kebaikannya diterima oleh Sang Hyang Widi maka dirinya menyatu
dengan alam semesta dan meninggalkan dunia yang fana untuk moksa
menuju nirwana, alam semesta dan bersatu dengan dewanya untuk
selamanya, itulah yang disebut dharma. Namun bila manusia Bali
membuat suatu kesalahan maka ketika mati dia akan melakukan
reinkarnasi untuk membersihkan dosanya kembali sampai kemudian
diterima oleh Tuhannya. Inilah konsep kosmologi Bali yang juga dianut
dalam arsitektur Bali yang mendasarkan arsitektur pada harmoni dan
keselarasan kehidupan.
Kosmologi Bali merupakan suatu hirarki yang membagi hubungan
manusia Bali dengan alam semesta dalam urutan seperti sebagai
berikut :
- Bhur alam semesta, tempat bersemayamnya para dewa.
- Bwah, alam manusia dan kehidupan keseharian yang penuh dengan
godaan duniawi, yang berhubungan dengan materialisme.
- Swah, alam nista yang menjadi simbolis keberadaan setan dan nafsu
yang selalu menggoda manusia untuk berbuat menyimpang dari
dharma.

Arsitektur Bali

compound

Arsitektur, meskipun dapat dikategorikan dalam senirupa, pada kenyatannya memerlukan keahlian artistik yang mensyaratkan keahlian memadukan aspek-aspek teknis, ruang dan keindahan untuk kesempurnaan hasilnya. Dipengaruhi oleh tuntutan fungsi-fungsi yang melekat didalamnya, seni arsitektur kemudian berkembang dinamis, melahirkan bentuk dan wajah yang beragam. Arsitektur harus mampu memenuhi salah satu dari 5 kebutuhan dasar manusia (sandang, pangan, papan, ruang kegiatan arsitektur, kesehatan dan pendidikan) dengan memadukan keahlian teknis dan ketajaman rasa.

Lebih khusus lagi Arsitektur Tradisional Bali tidak saja menganut pakem seni, teknis dan rasa ruang namun didalamnya terkandung pula tatanan filosofi adat dan agama Hindu. Prosesi mengolah bahan bangunan misalnya kayu yang berasal dari pohon tertentu sampai menjadi elemen bangunan merupakan tahap-tahap yang mesti dilakoni dengan nilai filosofi, adat dan agama. Pohon dengan ketinggian tertentu yang saat ditebang menimpa sungai, misalnya, tidak bisa dipergunakan sebagal bahan bangunan karena akan menimbulkan akibat buruk baik pemakainya. Aturan adat dan agama seperti ini pada hakekatnya adalah untuk memberi perlindungan terhadap alam lingkungan sehingga kelestarian akan terjaga.

Arsitektur Tradisional Bali memiliki sangat banyak aturan, tatanan adat dan filosofi agama yang mesti dipahami dan dianut oleh seorang arsitek tradisional (arsitek Bali disebut Undagi). Karena itu, seorang Undagi pada dasamya adalah manusia utama yang mampu memahami seni, komposisi, proporsi, teknis, rasa ruang, filosofi agama, aturan adat (awig- wig) dan bahkan sepatutnya memahami puja mantra karena sang Undagi juga berhak melakukan prosesi keagamaan saat memulai pekerjaan (upacara Ngeruak Karang), masa pelaksanaan hingga peresmian bangunan (upacara Pamelaspas). Dalam mewujudkan rancangannya, sang Undagi dibantu oleh tenaga pelaksana yang ahli dibidangnya seperti tukang batu, kayu, struktur dan tukang ukir yang disebut Sangging.
Jika di Bali terlihat bentuk bangunan yang beraneka ragam, hal itu disebabkan karena fungsi, pemakai dan daerah yang berbeda. Semua aturan dan tatanan mengenai arsitektur tradisional Bali terhimpun dalam naskah kuno berupa lontar, antara lain: Asia Bhumi, Asia Kosala dan berbagai lontar tentang tata cara pelaksanaan upacara pada bangunan.

Nawa Sanga

dewata
Nawa Sanga adalah konsep 9 mata angin yang menjadi pedoman
bagi kehidupan keseharian masyarakat Bali. Seperti halnya dengan
mata angin arah utara – selatan yang di sebut Kaja – Kelod, dan timur–
barat yang disebut kangin – kaluh. Hal ini sangat penting karena
orientasi orang Bali terhadap Gunung Agung dan arah terbit matahari
menjadi pedoman bagi perletakan pola perumahan pada umumnya.
Utara melambangkan dewa Wisnu, selatan dewa Brahma, timur dewa
Iswara dan barat dewa Mahadewa.

METODOLOGI ARSITEKTUR BALI
Arsitektur tradisional Bali tidak terlepas dari keberadaan asta kosala –
kosali yang memuat tentang aturan-aturan pembuatan rumah atau puri dan
aturan tempat pembuatan ibadah atau pura. Dalam asta kosala-kosali
disebutkan bahwa aturan-aturan pembuatan sebuah rumah harus
mengikuti aturan aturan anatomi tubuh sang empunya pemilik rumah
dengan dibantu sang undagi sebagai pedande atau orang suci yang
mempunyai kewenangan membantu membangun rumah atau pura.
Dalam asta kosala-kosali terdapat ukuran-ukuran atau dimensi yang
didasarkan pada ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran jarijari
si pemilik rumah yang akan menempati rumah tersebut. Seperti Musti,
yaitu ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari
yang menghadap ke atas.
Hasta untuk ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari
pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka.
Depa untuk ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang
dilentangkan dari kiri ke kanan.

ARSITEKTUR DAN SOSIAL STATUS
Arsitektur tradisonal Bali tidak dapat dilepaskan dari kondisi status
sosial masyarakatnya. Hal ini terjadi karena masyarakat Bali sangat erat
hubungan kekerabatannya terutama pada masyarakat Bali tradisional.
Masyarakat Bali sangat menghormati model hirarki kasta yang merupakan
sikap hidup mereka sesuai dengan agama yang mereka anut. Dan hal ini
berpengaruh pada pola ruang dan arsitektur tradisional Bali.
Pembagian kasta sebagai tingkatan hirarki dalam status sosila
masyarakat Bali dimulai dari yang paling bawah yaitu sudra, sebagai
masyarakat umum biasa yang kehidupan sehari-harinya bekerja sebagai
petani, abdi, pembantu dan pekerjaan-pekerjaan lainnya dalam
Arsitekur Tradisonal Bali
kemasyarakatan. Masyarakat sudra umumnya hidup sedehana karena
mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup dalam ilmu
pengetahuan, ilmu dagang dan ilmu pemerintahan.
Kemudian Weisya yaitu orang-orang yang berprofesi sebagai
pedagang atau pengusaha. Masyarakat kelas ini cukup mapan karena
usahanya dan pengetahuannya tentang perdagangan dan ilmu hitung,
sehingga kehidupannya tercukupi.
Satria adalah strata yang cukup terhormat dengan profesi sebagai
prajurit kerajaan atau pegawai pemerintahan. Mereka cukup berpendidikan
karenanya mereka mempunyai cukup ilmu keprajuritan atau pemerintahan,
sehingga mereka juga termasuk kaum berpendidikan cukup, atau
setidaknya dapat mempelajari tata kenegaraan. Kehidupan kaum satria
cukup mapan karena posisinya dalam masyarakat yang cukup terhormat.
Kasta yang paling tinggi adalah Brahmana, sebuah penghormatan
paling tinggi masyarakat Bali bagi seorang pemimpin agama atau orang
yang dianggap mumpuni dalam agama, atau juga yang disebut Pedande.
Orang suci yang telah mencapai pencerahan SangHyang Widhi sehingga
titahnya merupakan wahyu yang dibawa dari Mahadewa.
Sistem hirarki ini bahkan tertranformasi dalam system pola ruang
pada bangunan-bangunan rumah, umum maupun pada pura. Seperti
istilah jaba untuk bagian paling luar bangunan, kebudian jabajero untuk
mendifinisikan bagian ruang antara luar dan dalam, atau ruang tengah.
Dan kebudian jero untuk mendiskripsikan ruang bagian paling dalam dari
sebuah pola ruang yang dianggap sebagai ruang paling suci atau paling
privacy bagi rumah tinggal.

TEKNIK KONSTRUKSI DAN MATERIAL
Sistem konstruksi pada arsitektur tradisional Bali mempertimbangkan
konsep yang dinamakan tri angga, yaitu sebuah konsep hirarki dari mulai
nista, madya dan utama.
Nista menggambarkan suatu hirarki paling bawah suatu tingkatan, yang
biasanya diwujudkan dengan pondasi bangunana atau bagian bawah
sebuah bangunan sebagai penyangga bangunan diatasnya. Atau bila
dalam tiang kolom. Materialnya dapat terbuat dari batu bata atau batu
gunung. Batu bata tersebut tersusun dalam suatu bentuk yang cukup rapi
sesuai dengan dimensi ruang yang akan dibuat pada permukaan batu bata
atau batu gunung dibuat semacam penghalus sebagai elemen leveling
yang rata. Atau merupakan plesteran akhir nista juga digambarkan sebagai
alam bawah atau alam setan atau nafsu.
Madya adalah bagian tengah bangunan yang diwujudkan dalam
bangunan dinding, jendela dan pintu. Madya mengambarkan strata
manusia atau alam manusia.
Utama adalah symbol dari bangunan bagian atas yang diwujudkan
dalam bentuk atap yang diyakini juga sebagai tempat paling suci dalam
rumah sehingga juga digambarkan tempat tinggal dewa atau leluhur
mereka yang sudah meninggal. Pada bagian atap ini bahan yang
digunakan pada arsitektur tradisional adalah atap ijuk dan alang-alang.
Sistem konstruksi yang lain adalah system kelipatan dari tiang
penyangga atau kolom terutama bangunan rumah tinggal atau bangunan
umum.
Bale sakepat adalah bangunan dengan tiang penyangga berjumlah
empat buah, dengan konstruksi tiang kolom yang disatukan dalam satu
puncak atap. Jadi tidak terdapat kuda-kuda.
Bale sakenam adalah bangunan dengan tiang penyangga berjumlah
enam buah dalam deretan 2 x 3 kolom.
16 Arsitekur Tradisonal Bali
Bale tiang sanga adalah sebuah bale dengan tiang penyangga
berjumlah sembilan dan biasanya dalam formasi 3 x 3.
Bale sakarolas atau bale gede adalah bale dengan tiang penyangga
berjumlah dua belas dan biasanya dengan formasi 3 x 4.
Sedangkan wantilan yang jumlah kolomnya berjajar dalam formasi 2 x
8 atau 2 x 12 sehingga bangunan memanjang mengikuti deretan
kolomnya.

POLA RUANG RUMAH TINGGAL
Rumah tinggal masyarakat Bali sangat unik karena rumah tinggal tidak
merupakam satu kesatuan dalam satu atap tetapi terbagi dalam beberapa
ruang-ruang yang berdiri sendiri dalam pola ruang yang diatur menurut
konsep arah angin dan sumbu gunung Agung.
Hal ini terjadi karena hirarki yang ada menuntut adanya perbedaan
strata dalam pengaturan ruang-ruang pada rumah tinggal tersebut. Seperti
halnya tempat tidur orang tua dan anak-anak harus terpisah, dan juga
hubungan antara dapur dan tempat pemujaan keluarga. Untuk memahami
hirarki penataan ruang tempat tinggal di Bali ini haruslah dipahami
keberadaan sembilan mata angin yang identik dengan arah utara, selatan,
timur dan barat.
Bagi mereka arah timur dengan sumbu hadap ke gunung Agung adalah
lokasi utama dalam rumah tinggal, sehingga lokasi tersebut biasa dipakai
untuk meletakkan tempat pemujaan atau di Bali di sebut pamerajan. Untuk
mengetahui pola ruang rumah tradisional Bali maka sebaiknya kita
mengenali bagian-bagian ruang pada rumah tinggal tradisional Bali.
1. Angkul-angkul yaitu entrance yang berfungsi seperti candi bentar pada
pura yaitu sebagai gapura jalan masuk. Angkul-angkul biasanya teletak
di kauh kelod.
Arsitektur Tradisional Bali 17
2. Aling-aling adalah bagian entrance yang berfungsi sebagai pengalih
jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus kedalam tetapi
menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak
langsung lurus ke dalam. Aling-aling terletak di kaluh kelod.
3. Latar atau halaman tengah sebagai ruang luar.
4. Pamerajan ini adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Dan
pada perkampungan tradisional biasanya setiap keluarga mempunyai
pamerajan yang letaknya di kaja kangin pada sembilan petak pola
ruang.
5. Umah Meten yaitu ruang yang biasanya dipakai tidur kapala keluarga
sehingga posisinya harus cukup terhormat yaitu di kaja.
6. Bale tiang sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima
tamu yang diletakkan di lokasi kauh.
7. Bale Sakepat, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anakanak
atau anggota keluarga lain yang masih junior. Bale sakepat
biasanya terletak di kelod.
8. Bale Dangin biasanya dipakai untuk duduk-duduk membuat bendabenda
seni atau merajut pakaian bagi anak dan suaminya. Bale Dangin
terletak di lokasi kangin.
9. Paon yaitu tempat memasak bagi keluarga, posisinya berada pada
kangin kelod.
10. Lumbung sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi
dan hasil kebun lainnya.

KESIMPULAN.
Arsitektur Tradisional Bali merupakan produk tatanan budaya dan tradisi
masyarakat Bali yang sudah ada diyakini sejak kepindahan masyarakat
Hindu Majapahit akibat desakan budaya islam kerajaan Demak. Pengaruh
agama hindu yang menghormati semesta alam dan lingkungan membawa tradisi dan penghormatan pada arsitektur tradisional dimana material alam
merupakan “zat hidup” yang harus diperlakukan dengan baik dan penuh
penghormatan. Upacara untuk mengawali pemakaian material untuk
membangun dan budaya keseimbangan antara arsitektur dan alam
sekitarnya merupakan tradisi kearifan yang akhirnya membawa arsitektur
tradisional bali bertahan hingga ratusan tahun, dan bersinergi dengan alam
lingkungannya sehingga jarang didengar adanya bencana alam di bali
yang berhubungan dengan kesalahan tata ruang dan penataan arsitektur
seperti yang sering kita jumpai di kota – kota besar maupun di pedesaan di
daerah lainnya di Indonesia, yang terjadi karena pembangunan yang
memaksa daya dukung lahan dan alam lingkungan. Semoga kita dapat
belajar dari kearifan tata laku dan budaya masuarakat bali dalam
membangun dan menata arsitektur dna lingkungannya.

Sumber:http://ink1990.wordpress.com/

Sumber Yang Terkait:adamadhava.mpdconsultant.com

Category: 0 komentar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar